Jurnalistik

Pengertian Jurnalistik
Secara istilah kata “jurnalistik” berasal dari bahasa belanda “journalistiek” dan bahasa inggris “journalism”. Keduanya bersumber dari bahasa latin “diurnal” yang berarti harian atau setiap hari.
Sedangkan jurnalistik sendiri adalah kegiatan mengumpulkan data untuk dijadikan berita dan mengolahnya sampai disebarluaskan kepada khalayak. Bahan berita itu sendiri bisa berupa kejadian atau peristiwa dan pertanyaan yang diucapkan oleh seseorang yang memiliki pengaruh dalam masyarakat. Setiap kejadian dan pernyataan yang memiliki daya tarik bagi khalayak dapat dijadikan berita untuk disebarkuaskan kepada masyarakat.
MacDougal menyebutkan bahwa “journalisme” adalah kegiatan menghimpun berita, mencari fakta, dan melaporkan peristiwa. Jurnalisme sangat penting di mana pun dan kapan pun. Jurnalisme sangat di perlukan dalam negara demokratis. Tak peduli apapun perubahan-perubahan yang terjadi di masa depan, baik sosial, ekonomi, politik maupun lain-lainnya. Tak dapat dibayangkan, akan pernah ada saatnya ketika tiada seorangpun yang fungsinya mencari berita tentang peristiwa yang terjadi dan menyampaikan berita tersebut kepada khalayak ramai, dibarengi dengan penjelasan tentang peristiwa itu.
Leonard Downie JR. dan Robert G. Kaiser, mengatakan “Good journalism” adalah kegiatan dan produk jurnalistik yang dapat mengajak kebersamaan masyarakat disaat krisis. Berbagai informasi dan gambaran krisis, yang terjadi dan disampaikan, mesti menjadi pengalaman bersama. Ketika sebuah kejadian yang merugikan masyarakat terjadi, sebuah media memberi sesuatu yang dapat dipegang oleh masyarakat. Sesuatu itu adalah fakta-fakta, juga penjelasan dan ruang diskusi, yang menolong banyak orang terhadap sesuatu yang tak terduga kejadiaanya.
Sedangkan “Bad journalism” adalah media yang kurang cakap melaporkan pemberitaan yang penting diketahui masyarakat. Media yang memberitakan suatu peristiwa secara dangkal, sembrono, dan tidak lengkap, sering disebut tidak akurat dan tidak “cover both sides”. Ini berbahaya bagi masyarakat karena ketidaklengkapan informasi yang didapatnya. Ketidakcakapan pemberitaan manipulasi dan korupsi perbanan telah mengakibatkan pingsannya industri serta dirugikannya para depositor dan pembayar pajak dalam hitungan ratusan miliar rupiah. Semua dikarenakan kemalasan meliput dan kedangkalan pelaporan. Kerja media cuma mengisi kolom demi kolom dengan hal-hal yang halus dan sepele. Enggan berurusan dengan hal-hal penting dan penuh pertempuran.lebih banyak menimba fakta yang sudah siap edar dari narasumber yang sudah rutin, formal, dan siap wawancara.
Sejarah Perkembangan Jurnalistik
Menurut Onong Uchjana Effendy, kegiatan jurnalistik sudah sangat tua, yaitu dimulai sejak zaman Romawi kuno ketika Julius Caesar berkuasa. Waktu itu ia mengeluarkan peraturan agar kegiatan-kegiatan Senat setiap hari diumumkan kepada khalayak dengan ditempel pada semacam papan pengumuman yang disebut “Acta Diurna”.
Sebagian khalayak yang tuan tanah dan hartawan yang ingin mengetahui informasi yang dipasang di papan pengumuman itu menyuruh budak-budaknya yang bisa membaca dan menulis untuk mencatat segala sesuatu yang terdapat dalam Acta Diurna itu. Dengan perantaraan para pencatat yang disebut Diurnarii berita Senat sampai ke rumah para tuan tanah dan hartawan tadi.
Akibatnya terjadilah persaingan di antara Diunarii untuk mencari berita dengan menelusuri kota Roma, bahkan sampai keluar kota itu. Pelabuhan dan penginapan didatanginya pula untuk mencari informasi dari para pendatang mengenai kejadian-kejadian di negeri lain. Persaingan itu kemudian menimbulkan korban sekaligus korban pertama dalam dunia jurnalistik. Seorang Diunarii bernama Julius Rusticus dihukum gantung sampai mati atas tuduhan menyiarkan berita yang belum boleh disiarkan, atau masih rahasia. Berita itu adalah rencana kepindahan atau mutasi seorang pembesar yang Caesar belum waktunya diberitakan, karena masih dalam pertimbangan. Kemudian Julius Rusticus mendengar berita tentang rencana kepindahan pembesar itu dan dia beritakan.
Pada kasus itu terlihat bahwa kegiatan jurnalistik di zaman Romawi kuno hanya mengelola hal-hal yang sifatnya informasi saja. Tetapi kegiatan jurnalistik tidak ada perkembangan sejak zaman itu, karena sejak kerajaan Romawi runtuh, kegiatan jurnalistik sempat mengalami kevakuman, terutama ketika eropa masih dalam masa kegelapan, pada masa itu jurnalistik menghilang. Berita disampaikan oleh seorang kepada orang lain dengan cara diceritakan atau dinyanyikan oleh orang yang disebut “wandering minstrels” yang berkelana dari suatu tempat ke tempat lain. Cara pemberitaan seperti ini terdapat di Swiss, Inggris, dan Prancis. Kalaupun ada pemberitaan secara tertulis hanyalah dalam bentuk surat, itupun mengenai berita luar negeri.
Kemudian jurnalistik bergairah kembali dengan terbitnya Avisa Relation Oder Zeitung sebagai surat kabar pertama. Surat kabar ini terbit di Jerman pada 1609, lalu di London terbit Weekly News pada 23 Mei 1622. Tetapi surat kabar yang benar-benar terbit secara teratur setiap hari adalah Oxford Gazette pada tahun 1665, yang kemudian namanya diganti London Gazette. Henry Muddiman sebagai editor pertama surat kabar itu adalah orang yang pertama kalinya memperkenalkan istilah “newspaper” yang digunakan sampai saat ini.
Kemudian media massa mulai dikelola oleh pribumi dengan terbitnya majalah Bianglala tahun 1854 dan Bromartani tahun 1885, keduanya Weltevreden. Selain itu pada tahun 1856 terbit Soerat Kabar Bahasa Melajoe di Surabaya. Sejak saat itu banyak bermunculan surat kabar dengan pemberitaanya yang bersifat informatif sesuai dengan situasi dan kondisi pada zaman penjajahan. Umumnya media pribumi menggunakan nama-nama seperti: cahaya, sinar, sinar terang, bintang timoer, matahari, dan sebagainya. Umumnya media itu terbit di Jawa.

Falsafah Jurnalistik
Seperti halnya negara pers pun memilki falsafahnya sendiri. Falsafah atau dalam bahasa inggris philosophy salah satunya adalah tata nilai atau prinsip-prinsip untuk dijadikan pedoman dalam menangani urusan-urusan praktis.
Falsafah pers disusun berdasarkan sistem politik yang dianut oleh masyarakat dimana pers bersangkutan hidup. Falsafah pers yang dianut bangsa Amerika adalah liberalistis, berbeda dengan falsafah yang dianut oleh Cina dan Uni Soviet yang bersifat komunistis. Sedangkan falsafah yang dianut Indonesia bersifat demokratis lain dengan Myanmar yang bersifat Mliliteristis.
Dalam membicarakan falsafah pers, terdapat sebuah buku klasik mengenai hal ini, yaitu Four Theories of the Press (empat teori tentang pers) yang ditulis Siebert bersama Peterson dan Schramm dan diterbitkan oleh Universitas Illinois pada tahun 1956. Dari karya ini, pada tahun 1980, muncul teori baru tentang tanggung jawab sosial terhadap komunikasi massa yang dipelopori oleh Rivers, Schramm dan Christians dalam buku mereka yang berjudul Responsibility in Mass Communications.
Baik Siebert dkk. maupun Rivers dkk. pada prinsipnya sama mewakili pandangan Barat yang pada dasarnya mengembangkan tiga cara dalam mengaitkan pers dan masyarakat. Ketiga cara tersebut masing-masing melibatkan definisi yang berlainan tentang manusia, negara, kebenaran, dan perilaku moral. Hanya saja bagi Siebert dkk. ketiga cara tersebut merupakan landasan lahirnya empat teori tentang pers atau Four Theories of the Press yang mana empat teori tersebut adalah:
1. Authoritarian Theory (Teori Pers Otoriter)
Prinsip Authoritarian Theori adalah, bahwa negara memiliki kedudukan lebih tinggi daripada individu dalam skala nilai kehidupan sosial. Biasanya pendekatan dilakukan dari atas ke bawah. Pers harus mendukung kebijakan pemerintah dan mengabdi kepada negara.
2. Libertarian Theory (Teori Pers Bebas)
Dalam teori ini manusia dipandang sebagai mahkluk rasional yang dapat membedakan antara yang benar dan salah. Pers harus menjadi mitra dalam upaya pencarian kebenaran, dan bukan sebagai alat pemerintah.
3. Social Responsilibity Theory (Theori Pers Bertanggung Jawab Sosial)
Teori ini dijabarkan berdasarkan asumsi bahwa prinsip-prinsip teori pers libertarian terlalu menyerdehanakan persoalan.
4. The Soviet Communist Theory (Teori Pers Komunis Soviet)
Sistem pers ini menopang kehidupan sistem sosialis Soviet Rusia dan memelihara pengawasan yang dilakukan pemerintah terhadap segala kegiatan sebagaimana biasanya terjadi dalam kehidupan komunis.

Referensi:
Sudirman Tebba, jurnalistik baru, ciputat : kalam Indonesia, 2005
Septiawan Santana K., Jurnalisme Kontemporer, Jakarta: Obor, 2005
Hikmat Kusumaningrat dan Purnama Kusmaningrat, Jurnalistik: Teori dan Praktik, Bandung: Rosdakarya, 2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s